Apakah mungkin umat islam akan bersatu dalam satu kepemimpinan universal tepat seperti zaman nabi dulu?,pertanyaan ini mungkin bagi sebagian besar umat islam merupakan pertanyaan terbesar mereka pula,dan bagi sebagian yang lain pertanyaan seperti itu disebut sebagai romantisme masa lalu dengan konotasi yang negatif seperti menolak modernisme,kolot,kaku,tidak melihat isyarat zaman atau bahkan dianggap melawan hukum alam.Tapi aku pikir umat ini memang memerlukan kepemimpinan universal yang dapat membawa Islam kedalam realitas kehidupan sehari-hari.Hari ini Islam masih berupa abstraksi-abstraksi dan fragmen-fragmen masa lalu apakah itu benar-benar kondisi realitas umat ataukah rekayasa dari kekuatan counter islam yang menurutku memang benar-benar eksis karena bagaimanapun juga kita tidak bisa menghindar dari yang namanya rekayasa politik dan non politik atau dari politik itu sendiri, pada kenyataannya hal tersebut adalah keniscayaan dunia ini.yang aku bilang rekayasa mungkin bagi orang lain adalah pernyataan yang sama sekali tidak berpijak pada fakta-fakta yang ada,namun aku melihat dan merasakan hal itu.mungkin kita harus berpikir dalam kerangka seperti ini: makanan yang kita makan , pakaian yang kita pakai, musik yang kita dengarkan, perempuan yang kita idam-idamkan atau bahkan bahasa yang kita gunakan semua itu adalah hasil dari suatu rekayasa, faktanya hari ini kita tidak bisa menghindar dari berbagai macam junk-food,kita tidak bisa memilih apakah ingin makan nasi sama sambal, tempe dan lalab atau mie instan yang ragamnya tak terhitung itu, kenyataannya temanku lebih banyak makan mie instan daripada makan nasi. Kita merasa menjadi diri sendiri ketika berpakaian punk atau ketika kita bertanya pada diri sendiri dengan bangga kok aku suka musik emo?, atau jazz, rock atau apapun yang sekarang menjadi trend. Bukannya aku menganjurkan untuk mengenakan kebaya,sarung atau mendengarkan gamelan,cianjuran atau legong tapi aku mau mengatakan bahwa semua kesukaan kita itu tidak secara alami dan ujug-ujug ada pada diri kita, semua itu mengada melalui berbagai evolusi bahkan revolusi baik yang bersifat material maupun spiritual alias rekayasa sosial-kultural dan tak lupa juga politis seperti soal bahasa yang lumrah kita gunakan, apakah kita pernah bertanya kenapa bahasa yang kita gunakan sekarang ini adalah bahasa yang sekarang kita gunakan?, mungkin para ahli linguistik dan antropolog akan mengeluarkan segudang tesis mengenai alamiahnya pembentukan bahasa suatu suku bangsa, dari sekian banyak tesis aku setuju dengan tesis yang intinya berisi bahwa suatu kata terbentuk adalah hasil dari rekayasa kekuatan penguasa dan kata-kata adalah elemen yang membangun bahasa. Ketika di satu belahan dunia bangsa Persia berkuasa maka bahasa yang umum digunakan adalah bahasa Persia dan dibelahan lain dunia bangsa Romawi berkuasa maka bahasa komuniikasipun bahasa Romawi, begitu pula ketika agama Islam yang lahir di tanah Arab berkuasa atas dunia maka bahasa internasional yang digunakan adalah bahasa Arab, jadi kalau sekarang banyak kalangan yang megaku modern mencibirkan mulut ketika ada orang Islam yang banyak menggunakan kata Arab dengan tuduhan kolot dan kaku, terasa lucu karena dulu ketika dunia Islam menjadi kiblat ilmu pengetahuan, orang-orang Eropa belajar bahasa Arab persis seperti kita sekarang 'harus' belajar bahasa Inggris karena literatur-literatur ilmu pengetahuan ditulis dan diucapkan dengan bahasa Arab.
Setiap manusia nenpunyai kecenderungan spiritual dalam jiwanya, spiritual dalam arti yang paling luas karena sejarah peradaban manusiapun tidak terlepas dari evolusi dan pencapaian dalam ranah spiritual. Karena tidak satupun manusia yang dapat bertahan tanpa mencintai dan dicintai dan cinta itu sendiri adalah implementasi paling luhur dari kecenderungan spiritual dan cinta kepada dan dicintai oleh apa yang mafhum didefinisikan sebagai tuhan adalah ekspresi paling tinggi dan paling universal atau kosmopolit dari tingkatan cinta.ketika kaum atheis umumnya dan Mark khususnya menyatakan agama sebagai candu dan candu agama dapat melemahkan, hal itu hanyalah seperti yang disebutkan sebelumnya merupakan suatu rekayasa yang bertujuan untuk mengukuhkan cita-cita politik dari kelompok yang mempunyai kepentingan karena toh pada kenyataannya mereka juga mencintai 'nabi-nabi' mereka seperti kita kaum theis mencintai nabi-nabi kita. lebih jauh lagi merekapun beribadah dengan cara mensakralkan ideologi dan terus-menerus mencari dalil-dalil pembenaran bagi 'agama' mereka. Sungguh suatu ironi terbesar ketika ideologi yang mencita-citakan kebebasan bagi yang tertindas ternyata malah menindas, kita melihat di soviet dulu bagaimana agama dalam berbagai bentuk dianjurakan dalam undang-undang mereka untuk dimusnahkan, gereja-gereja dibakar, para pendeta diintimidasi bahkan dibunuh tanpa alasan dan orang-orang Islam ditindas begitu keras sehingga hari ini banyak wilayah-wilayah tersebut yang memerdekakan diri dengan mengusung Islam sebagai ideologinya, kita juga melihat Cina melakukan hal yang sama masjid-masjid diwilayah-wilayah yang banyak berpenduduk muslim dihancurkan dan para ulamanya dikejar-kejar dan dibunuh. Tibet merupakan satu kasus yang paling memilukan dari sejarah Cina komunis dimana Cina menginvasi Tibet dengan kekerasan yang menyeramkan, menyiksa dan membunuh penduduk dan terutama para biksu yang setia terhadap nilai-nilai spiritual leluhurnya.
Islam hari ini bukan lagi pembebas dari kaum mustadh'afin, Islam hari ini masih merupaka agama dengan mazhab selebritis dimana hanya ajaran-ajaran yang tidak bersentuhan dengan realitas sosial dan politik saja yang diamalkan dengan kata lain umat Islam lebih khusyu mengurusi masalah-masalah remeh seperti bagaimana berpakaian dan berpenampilan menyerupai nabi atau segudang tata-krama dan tata-cara bagaimana membaca al-qur'an dengan benar akan tetapi mengenai bagaimana negara melaksanakan pemerintahan atau falsafah apa yang digunakan menurut Islam tidak pernah menjadi perdebatan apalagi pelaksanaan. Seorang temanku pernah beberapa kali bertanya kepadaku kenapa umat Islam indonesia tidak mau berhukum kepada alqur'an, aku hanya mengatakan padanya bahwa itu adalah masalah rekayasa kesadaran. Karena jujur aku sendiri merasa bodoh untuk memahami bagaimana mungkin di Indonesia ini begitu banyak orang 'shaleh' tapi keadaannya melebihi zaman jahiliyah, aku merasa geram melihat begitu banyak wadah perjuangan umat Islam dan beberapa darinya merupakan organisasi yang bisa dikatakan besar dalam skala nasional tetapi tetap saja Indonesia bukan negara Islam.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment